Koper Bersayap Inanike
Menjalani profesi sebagai seorang pramugari memberi inspirasi bagi Inanike Agusta untuk mencipta karya seni tak terduga.

Inanike Agusta membuka salah satu ruang pameran menjadi studionya dalam pameran tunggal bertajukWings of Time di D’Gallerie, Jakarta, Senin (25/11/2024). Pameran diselenggarakan pada 24 November hingga 14 Desember 2024. KOMPAS/IGNATIUS NAWA TUNGGAL
Rutinitas kehidupan yang dijalani acap kali memberi inspirasi karya seni tak terduga. Pramugari maskapai penerbangan nasional, Inanike Agusta (38), misalnya, menemukan daya cipta karya seni patung koper bersayap. Patung itu mengisahkan dirinya.
Koper itu seolah membawa Inanike terbang ke mana saja, ke belahan bumi lain. ”Koper ini yang saya pergunakan sejak pertama kali diterima menjadi pramugari,” ujar Inanike, Senin (25/11/2024), di D’Gallerie, Jakarta.
Inanike bekerja untuk maskapai penerbangan Garuda sejak 2010 sampai kini. Ibu beranak satu dengan suami asal Mesir ini lahir di Salatiga, Jawa Tengah. Darah seninya mengalir dari sang ayah, Agus Widodo, yang mengenyam pendidikan Sekolah Tinggi Seni Rupa ASRI, cikal bakal Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta saat ini.
Patung koper bersayap yang diberi judul ”Bound for the Infinite” (Terikat Tanpa Batas/2024) itu terbuat dari media campuran dengan bentangan sekitar 4 meter. Patung ini ditampilkan bersama 55 lukisan dalam pameran tunggal di D’Gallerie bertajuk Wings of Time (Sayap Waktu) pada 24 November-14 Desember 2024.
Melalui koper bersayap, Inanike ingin menyampaikan bahwa dalam kesibukan profesinya, ia terus berupaya membebaskan jiwa seninya. Ia mengatakan, ”Kadang kala orang melihat seorang pramugari bisa memiliki banyak waktu. Saya tidak seperti itu, bahkan untuk beristirahat saja masih kurang-kurang.”
Itu karena Inanike selalu ingin mengikuti gerak hatinya dalam melukis di mana pun berada. Koper yang diubah menjadi patung tersebut adalah saksi bisunya. Inanike sering menyelipkan sebuah kanvas panel berukuran 30 cm x 40 cm di dalam koper itu.
Ketika singgah dan beristirahat di kota-kota tertentu, Ia mengambil kanvas panel tersebut, menyambangi tempat-tempat ikonik dan melukis di situ. ”Ketika melukis, saya lebih suka jalan sendiri tanpa teman. Ini supaya di tengah-tengah melukis tidak diajak pulang,” ujarnya.
Ia menampilkan beberapa lukisan langsung atau on the spot tersebut di pameran Sayap Waktu ini. Di antaranya lukisan yang dibuat di London, Inggris, berjudul ”The Time of London” (2017). Kemudian ”Historical District Old Jeddah” (2018), ”The Canal Love Venezia” (2017), ”Civilization of Egypt” (2017), ”The Holy Kabah” (2020), ”Love Street Paris” (2017), ”The Seels of Sydney” (2016), dan ”Blooming Holand” (2016). Selain itu, ada juga lukisan yang dibuat di Tanah Air, meliputi ”Toba from Window Shades” (2024), ”Glorious of Borobudur Temple” (2024), dan ”Dreamy Land of Padar Island” (2024).
Akademisi ISI Yogyakarta, Sudjud Dartanto, dalam catatan kuratorial pameran tersebut menyampaikan, lukisan-lukisan Inanike memiliki gaya impresionis atau bisa masuk pula ke dalam pascaimpresionis. Sejak kecil, Inanike sering melukis bentuk sembari menemani ayahnya ketika sedang melukis.

Pengunjung menikmatGi pameran tunggal Inanike Agusta bertajuk Wings of Time di D’Gallerie, Jakarta, Senin (25/11/2024). KOMPAS/IGNATIUS NAWA TUNGGAL
Abstrak
Inanike tergolong pelukis otodidak. Pada 2006, ia menuntaskan program studi D-3 sekretaris di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Setelah lulus, ia bekerja di kantor Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Ungaran, Semarang. Sembari bekerja, ia melanjutkan studi.
Tahun 2009, Inanike menuntaskan studi jenjang S-1 program studi manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Trianandra, Surakarta. Tahun 2010, ia pindah kerja ke maskapai penerbangan Garuda.
Dalam perjalanan melukisnya beberapa tahun terakhir, Inanike memutuskan melukis dengan gaya abstrak. Lukisan abstraknya cukup mendominasi lukisan yang sedang dipamerkan sekarang.
Dalam lukisan-lukisan itu, Inanike menggunakan cat minyak bertekstur tebal di atas kanvas. Ia tidak mau membuang limbah cat berupa tube yang terbuat dari logam. Tube-tube itu pun dibelah dan dijadikan bagian dari karya seni lukis abstraknya. Itu bentuk dari kepeduliannya terhadap lingkungan.
Sudjud melihat pameran ini sekaligus sebagai tawaran atau kesempatan bagi publik untuk mendapatkan wawasan proses kreatif Inanike. Perjalanan artistik terbaru Inanike dengan lukisan-lukisan abstraknya itu lebih menunjukkan kebebasan. Warna yang digunakan juga lebih kaya dan imajinatif.
Selain simbolisme, karya-karya Inanike juga menghadirkan emosi. Seperti di dalam karya lukisan abstrak berjudul ”Colorful Life dan Rainbow Forest”, Inanike menyuguhkan narasi hidup yang penuh harapan dan kecerahan. Sementara karya berjudul ”Limited Time to Touch the Ground” menunjukkan kedalaman batin.
Inanike juga menghadirkan konsep rumah dan keluarga, di antaranya melalui lukisan abstrak yang diberi judul ”Wherever I Fly, Always Find My Home” (Di Mana Pun Terbang Selalu Menemukan Rumahku). Sisi emosi lain yang menunjukkan kontradiksi juga tersirat dalam karya lukisan abstrak berjudul ”The Battle of Dreams and Truth” (Perang antara Mimpi dan Kebenaran).
Lukisan Inanike tak hanya diletakkan dalam bingkai empat persegi, tetapi ada juga yang berada di bingkai lingkaran. Ini melambangkan siklus kehidupan yang terus berubah dan berkembang. Di antaranya lukisan lingkaran dengan tema penghormatan atas kerendahhatian sosok pelukis Frida Kahlo, Edouard Manet, dan Vincent van Gogh.
”Obyek yang dilukisnya berfungsi sebagai penyalur emosi, kesan, dan visinya mengenai dunia. Selain itu, ia menggunakan pendekatan warna yang ekspresif dan kadang-kadang bahkan naif, yang mencerminkan kondisi emosinya,” kata Sudjud.
Dari lukisan impresionis yang dihadirkan sebelumnya, Sudjud melihat upaya Inanike tidak sekadar meniru lanskap dalam hadapannya. Ia menggabungkan elemen pribadi, emosional, dan estetika untuk menciptakan lingkungan imajiner. Di situ realitas dan hasrat bertemu. Inanike menciptakan sebuah dunia yang tidak sepenuhnya nyata atau manusiawi. Ia merayakan keseniannya menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, lebih agung, lebih kosmik.
Ada bagian lain di ruang pamer karya Inanike sekarang. Ia membentuk salah satu ruang menjadi studionya. Di situ ia juga melukis. Ia melanjutkan lukisan yang belum tuntas. Di ruang yang relatif sempit itu pula Inanike meletakkan lukisan-lukisan yang bercorak impresionis dengan latar ikonik kota-kota dunia. Inanike melengkapi sebuah pameran dengan aktivitasnya.
”Untuk menemani pengunjung pameran, saya mengambil cuti sampai tiga minggu di sini,” ujar Inanike tentang totalitasnya dalam berpameran.
Sumber: Kompas.id