Menyorot Antroposentrisme Di Pameran “A Man Who Carried A Montain”
Pameran bertajuk “A Man Who Carried A Montain” menghadirkan karya-karya terbaru dari Iwan Suastika tentang fenomena perubahan lingkungan alam dan sosial mutakhir yang kian antroposentrik.
Penulis: Andesta Herli Wijaya,
Editor: Satrio Wicaksono
JAKARTA – D Gallerie menggelar pameran tunggal karya perupa Iwan Suastika. Bertajuk “The Man Who Carried A Mountain”, pameran ini menampilkan karya-karya terbaru sang perupa, dari periode 2022 hingga 2023.
Pameran “The Man Who Carried A Mountain”, menyajikan pembacaan Iwan Suastika atas fenomena perubahan lingkungan alam dan sosial mutakhir yang kian antroposentrik. Supremasi manusia atas alam dan makhluk hidup non-manusia yang mewarnai abad modern, telah membentuk gelombang eksplorasi tiada ujung atas alam.
Pertanian dan uji coba radio nuklir yang sekaligus bersamaan dengan revolusi industri, umum dianggap sebagai titik awal dimana manusia memasuki babak baru peradaban yang ditandai semangat antroposentrisme, cara pandang yang melihat manusia sebagai pusatnya seluruh kehidupan.
Ignatia Nilu, penulis pameran ini mengungkapkan latar transformasi alam sebagai produk dari gelombang antroposentrisme abad modern, itulah yang mewarnai gagasan Iwan Suastika berkarya. Eksplorasi manusia telah membentuk karakteristik baru pada alam, berikut dampaknya.
“Gandum datang ke Amerika Utara dan gula datang ke Selatan Amerika dan pencampuran spesies yang nyata di seluruh dunia. Sebuah kenyataan yang tengah menempatkan Bumi pada lintasan evolusi baru,” ungkap Nilu dalam keterangannya.
Di sisi lain, perubahan besar terjadi di segala sesuatu di planet ini, yang disebut “percepatan besar”, dengan populasi meningkat sebesar 2% per tahun, dan merupakan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Hal-hal itulah yang dibicarakan sang perupa. Karya-karya yang menampilkan sosok manusia beserta kehidupan non-manusia di planet. Sosok manusia, dalam cara surealistik, digambarkan di antara fenomena dan tantangan yang terjadi di zaman ini.
Tantangan yang dimaksud, berupa perubahan iklim yang semakin nyata, kerusakan alam, hingga tantangan yang semakin kompleks.
“Kehadiran Sosok manusia digambarkan berada pada puncak peradaban, sementara entitas non-manusia lainnya berada pada orbit peradaban manusia. Konsekuensinya manusia wajib memikul tanggung jawab besar yang bersumber dari hasratnya sendiri. Sekaligus untuk membatasi ambisinya yang mungkin belum disadarinya—hasrat antroposentrik,” tambah Iwan Suastika.
Iwan Suastika lewat karya-karya lukisan hingga patung, menyajikan sikapnya sebagai generasi yang mewakili zaman ini, dimana perubahan alam yang terjadi secara global. Alam hayati dihadirkan berevolusi dalam fitur- fitur imajinatif secara tragis dan paradoksal.
Karya-karya pada pameran ini seraya ingin menggulirkan pertanyaan di ruang publik dan menggugah kita bersama: apa yang akan kita wariskan kepada generasi selanjutnya?
Pameran “The Man Who Carried A Mountain” telah dibuka untuk publik pada Sabtu, (12 /8) lalu, dan akan berlangsung 12 September mendatang.
Sumber: validnews.id