23 September 2024

Pameran dan Peluncuran Buku Seniman Jumaldi Alfi Digelar di D Gallerie

– Sabtu, 21 September 2024 | 21:17 WIB
Tidak terlalu berlapis seperti di papan tulis pada serial sebelumnya, tulisan-tulisan tegak bersambung di sini lebih acak dan juga ditimpali sapuan, coretan, dan bercak di sana-sini. Sangat terlihat jelas, di papan tulis kali ini ada frasa “how to explain” di sisi atas-tengah dan sebuah gambar batu di bawahnya. Selain itu, lukisan papan tulis dalam karya ini hanyalah sebagian belaka dari keseluruhan lukisan. Sebagian lainnya berupa lukisan yang menggambarkan sisi belakang spanram. Dan di sini kita menemukan papan tulis hitam tak lagi diposisikan sebagai peranti ruang kelas belaka. Dalam menciptakan seri lukisannya yang komprehensif seperti Blackboard Paintings atau, yang lebih baru, seri Melting Memories, ia memanfaatkan cakupan referensi dari teks hingga objek empiris alam hingga lukisan Renaisans dan kenangannya sendiri; kesan karyanya menjadi misterius sekaligus intim.

Alfi tinggal dan bekerja di Yogyakarta, Indonesia dan telah banyak mengadakan pameran di Indonesia maupun internasional. Papan tulis hitam yang menjadi bagian dalam Pendidikan Indonesia sejak zaman kolonial hingga saat ini, menurut Heru Joni Putra yang mengkuratori pameran Never Ending Stories ini, kerap dianggap sebagai simbol atau anasir politis bagi kebangkitan bangsa Indonesia melalui pemberdayaan ilmu-pengetahuan. “Dan kebangkitan semacam ini tak bisa dilepaskan dari konsistensi untuk membaca kembali apa-apa yang sudah diterima, didapatkan, ataupun diwariskan,” ungkap Heru dalam tulisannya untuk mengantar pameran ini.

Pemilik d gallerie, Esti Nurjadin mengatakan selalu tertarik dengan karya-karya Alfi, terutama dari seri papan tulis ini.   “Bila kita secara intensif mengikuti karya-karya Alfi, akan terlihat sebuah pola menarik tiap kali ia ingin membicarakan dan mempertanyakan sebuah aliran seni secara kritis, ia akan menggunakan seri papan tulis ini sebagai sarana bicara. Pembacaan ulangnya terhadap berbagai alira semisal mooi indie atau abstrak, dituangkan dalam karya dengan gambar papan tulis sebagai latar. Misalnya saja ketika ia menuangkan lukisan mooi indie ala Basuki Abdullah atau karya abstrak Mondrian,” ujarnya.

Esti berharap pameran ini bisa mengenalkan dan mendekatkan kembali khalayak seni rupa pada karya-karya seniman-seniman senior dari kelompok Jendela. “Dunia seni rupa kontemporer Indonesia sangat dinamis. Setelah melewati beberapa dekade, tak hanya seniman-seniman baru yang lahir, tapi juga muncul kolektor-kolektor baru yang mungkin tidak terlalu terpapar dengan karya-karya dari para seniman senior Jendela di mana Alfi menjadi salah satunya. Pameran ini saya harapkan bisa menjadi jembatan untuk mempertemukan para kolektor muda dengan karya-karya Alfi, selain juga ingin mengajak para kolektor senior untuk berjumpa dengan karya-karya Alfi,” Esti memungkas. ***