23 September 2024
Pameran dan Peluncuran Buku Seniman Jumaldi Alfi Digelar di D Gallerie
– Sabtu, 21 September 2024 | 21:17 WIB
ndonesiaMove.com – D Gallerie menggelar pameran tunggal Jumaldi Alfi mulai 21 September hingga 21 Oktober mendatang.
Bertajuk “Never Ending Stories”, pameran yang dikuratori oleh Heru Joni Putra ini mengetengahkan karya-karya lukis dari sei papan tulis yang menjadi salah satu signature seniman yang biasa disapa Alfi ini. Pada pembukaan pameran juga akan dilakukan peluncuran buku “Jumaldi Alfi: Kisah-kisah Tak Berkesudahan”. Selain memuat foto-foto karya serta kisah tentang perjalanan dan proses kekaryaan Alfi, buku ini memuat pula empat esai yang ditulis oleh Thomas J. Berghuis, Michal Ron, Astrid Honold dan Heru Joni Putra.
Alfi yang lahir di Lintau, Sumatra Barat pada 1973 ini merupakan salah satu seniman yang memiliki jejak penting dalam seni rupa kontemporer Indonesia. Bersama kelompok seni rupa Jendela, ia mendapat perhatian internasional pada akhir dekade 90an sebagai seniman yang berfokus pada eksplorasi estetika dan material dalam wilayah yang lebih formalis dan personal. Alfi dan Kelompok Jendela berhasil memperkenalkan dinamika segar ke dalam dunia seni kontemporer Indonesia yang masih sangat muda. Alfi terutama dikenal karena ikonografi tanda-tanda visual pribadinya yang menarik, yang mencerminkan pengalaman eksistensial dan spiritual pada tingkat individu dan kolektif, salah satunya seri papan tulis yang cukup kerap ia garap dalam karyanya sejak 2005.
Menurut, Heru Joni Putra yang juga menjadi kurator dalam pameran Never Ending Stories ini, Alfi merupakan satu-satunya seniman Indonesia yang secara konsisten memberikan perhatian pada papan tulis hitam sebagai objek sekaligus wacana dalam lukisannya. Serial lukisan papan tulis hitam yang dikerjakan Alfi lebih-kurang dalam dua dekade terakhir menunjukkan upaya menarik untuk memperluas makna penting papan tulis sebagai salah satu medium yang kita gunakan dalam proses menjadi Indonesia, tentu, di tengah pergaulan dengan bangsa lain. Pada mulanya, papan tulis muncul sebagai objek lukisan di beberapa karya dalam serial Postcard from the Past (2005). Alfi melukis papan tulis yang berisikan tulisan tegak bersambung dan juga sedikit coretan. Tulisan-tulisan itu tampak menimpal tulisan lainnya, sebagiannya bekas hapusan yang masih tersisa, dan sebagian kecil masih dapat kita baca. Pada mulanya, sebagaimana karya-karyanya lainnya di era itu, Alfi melukis papan tulis hitam karena dipantik oleh kenangan masa kecil di pedalaman Minangkabau semasa belajar menggunakan papan tulis hitam. Belum ada penekanan untuk menunjukkannya secara konseptual sebagai peranti yang politis. Lukisan papan tulis hitam muncul kembali secara konseptual pada serial Colour Guide Series (2007). Di sini, dalam salah satu karya bernomor #8, Alfi kembali melukis papan tulis dan membubuhkan tulisan tegak bersambung dari kapur berbagai warna.
Tidak terlalu berlapis seperti di papan tulis pada serial sebelumnya, tulisan-tulisan tegak bersambung di sini lebih acak dan juga ditimpali sapuan, coretan, dan bercak di sana-sini. Sangat terlihat jelas, di papan tulis kali ini ada frasa “how to explain” di sisi atas-tengah dan sebuah gambar batu di bawahnya. Selain itu, lukisan papan tulis dalam karya ini hanyalah sebagian belaka dari keseluruhan lukisan. Sebagian lainnya berupa lukisan yang menggambarkan sisi belakang spanram. Dan di sini kita menemukan papan tulis hitam tak lagi diposisikan sebagai peranti ruang kelas belaka. Dalam menciptakan seri lukisannya yang komprehensif seperti Blackboard Paintings atau, yang lebih baru, seri Melting Memories, ia memanfaatkan cakupan referensi dari teks hingga objek empiris alam hingga lukisan Renaisans dan kenangannya sendiri; kesan karyanya menjadi misterius sekaligus intim.
Alfi tinggal dan bekerja di Yogyakarta, Indonesia dan telah banyak mengadakan pameran di Indonesia maupun internasional. Papan tulis hitam yang menjadi bagian dalam Pendidikan Indonesia sejak zaman kolonial hingga saat ini, menurut Heru Joni Putra yang mengkuratori pameran Never Ending Stories ini, kerap dianggap sebagai simbol atau anasir politis bagi kebangkitan bangsa Indonesia melalui pemberdayaan ilmu-pengetahuan. “Dan kebangkitan semacam ini tak bisa dilepaskan dari konsistensi untuk membaca kembali apa-apa yang sudah diterima, didapatkan, ataupun diwariskan,” ungkap Heru dalam tulisannya untuk mengantar pameran ini.
Pemilik d gallerie, Esti Nurjadin mengatakan selalu tertarik dengan karya-karya Alfi, terutama dari seri papan tulis ini. “Bila kita secara intensif mengikuti karya-karya Alfi, akan terlihat sebuah pola menarik tiap kali ia ingin membicarakan dan mempertanyakan sebuah aliran seni secara kritis, ia akan menggunakan seri papan tulis ini sebagai sarana bicara. Pembacaan ulangnya terhadap berbagai alira semisal mooi indie atau abstrak, dituangkan dalam karya dengan gambar papan tulis sebagai latar. Misalnya saja ketika ia menuangkan lukisan mooi indie ala Basuki Abdullah atau karya abstrak Mondrian,” ujarnya.
Esti berharap pameran ini bisa mengenalkan dan mendekatkan kembali khalayak seni rupa pada karya-karya seniman-seniman senior dari kelompok Jendela. “Dunia seni rupa kontemporer Indonesia sangat dinamis. Setelah melewati beberapa dekade, tak hanya seniman-seniman baru yang lahir, tapi juga muncul kolektor-kolektor baru yang mungkin tidak terlalu terpapar dengan karya-karya dari para seniman senior Jendela di mana Alfi menjadi salah satunya. Pameran ini saya harapkan bisa menjadi jembatan untuk mempertemukan para kolektor muda dengan karya-karya Alfi, selain juga ingin mengajak para kolektor senior untuk berjumpa dengan karya-karya Alfi,” Esti memungkas. ***